Karena Hal Terdekat Adalah Kematian

Karena Hal Terdekat Adalah Kematian

Posted on 09. Feb, 2011 by ziaulhaq in Faith

Barusan jelajah facebook teman. Dari satu teman ke profil dan foto temannya, ke temannya lagi, dan ke temannya lagi. Hingga akhirnya…nemu sebuah foto hasil scan cover buku Yasinan 40 hari dengan foto seorang remaja 20 tahun. Wajah di foto itu bersih dengan senyum yang mengembang. Di bawahnya banyak sekali komen kerinduan dan kehilangan. Dari foto-foto lainnya, kelihatan bahwa remaja yang status terakhir masa hidupnya masih tercatat sebagai anak kuliahan ini sangat aktif dan energik, dan mungkin sedikit narsis. Mengingatkan saya pada profil beberapa teman yang juga aktif, energik, dan mobile.

Astaghfirullah, pandangan saya terpaku dan rasanya tak mampu menelan ludah.

Hal yang paling jauh adalah masa lalu.

Hal yang paling dekat adalah kematian.

Masa lalu, meski hanya sedetik yang lalu, tak akan pernah lagi dapat digapai sekeras apapun manusia berusaha. Namun kematian, sepanjang apapun sisa usia kita nanti, tetap saja nanti terasa begitu cepat dan dekat datangnya. Tau-tau udah ganti bulan, tau-tau udah ganti tahun, tau-tau usia kita bertambah. Tau-tau…kematian itu datang.

Kematian tak kenal usia. Sejak jaman kuliah, rasanya berita mati muda bertebaran di sekitar saya. Teman baik waktu kecil, teman kelompok mentoring waktu kuliah, mantan teman sekamar waktu esema, dan beberapa lagi.

Tak ada yang tahu kapan dia akan mati. Teman-teman yang mati muda, banyak dari mereka yang merasa dunia begitu indah sesaat sebelum kematiannya. Mereka merasa seakan kematian begitu jauh. Mereka masih punya sejuta rencana dan cita-cita. Namun siapa sangka itu adalah saat-saat terakhir mereka.

Seperti sebuah puisi:

Berapa banyak pemuda yang di pagi hari tertawa-tawa. Padahal kain kafannya sedang dijahit untuknya.

Tak ada yang perlu ditakutkan dengan momen ketika maut itu datang. Tidak perlu juga khawatir dengan perpisahan dengan dunia dan isinya (apalagi jika dunia kita memang sedikit). Namun terbayangkah saat setelah kematian itu tiba?

Jika kita sedang naik bus malam, cobalah amati ketika di pinggir jalan ada pemakaman umum. Gelap, sepi, dan di bawah tanah itu tentu jauh lebih gelap dan sepi. Seperti itu kondisi kita nanti.

Setiap detik hidup kita seperti sebuah kotak kosong yang kemudian kita isi dengan sesuatu, apapun itu. Di akhirat nanti, kotak-kotak itu akan dibuka satu persatu di depan kita, dan ditunjukkan kepada kita apa yang telah kita isikan di dalamnya.

Tak ada lagi usaha yang dapat dilakukan setelah mati. Tidak sedikitpun. Hanya kegembiraan abadi atau penyesalan abadi yang dirasa. Maka, semoga Allah memberi kita kekuatan dan petunjuk untuk mampu mengisi kotak-kotak itu dengan kebaikan.

Allah Tuhan kami, tidak satupun dari kami yang tahu kapan nyawa kami akan Kau pisahkan dari raga ini. Apakah di masa muda kami, atau nanti ketika kami sudah renta. Kapanpun itu, cukupkanlah bekal kami untuk hari yang dahsyat itu.

Allah Tuhan kami, dengan belas kasihMu, rezekikan pada kami kematian dalam keteguhan pada agamaMu. Jadikan kalimat La ilaha illa Allah sebagai kalimat terakhir kami di dunia. Engkaulah yang membolak-balikkan seluruh hati, maka tetapkan hati kami di jalanMu.

Allah Tuhan kami, jadikan kami orang yang berbahagia ketika nanti di akhirat kau bukakan di depan kami setiap detik dari usia kami di dunia.

Tags: , , ,

Leave a Reply