<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ziaulhaq.Com &#124;&#124; Home Base of Zia Ul Haq</title>
	<atom:link href="http://ziaulhaq.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ziaulhaq.com</link>
	<description>Just Preparing for The Hereafter</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 02:02:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>Keep Your Email Away From Spam Box</title>
		<link>http://ziaulhaq.com/keep-your-email-away-from-spam-box</link>
		<comments>http://ziaulhaq.com/keep-your-email-away-from-spam-box#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 02:54:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ziaulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[BizTalk]]></category>
		<category><![CDATA[Techno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ziaulhaq.com/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[Not only promotional material or offering letter –which has lower importance-, but also important email and confirmation email now have higher chance to getting landed into spam box.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Not only promotional material or offering letter –which has lower importance-, but also important email and confirmation email now have higher chance to getting landed into spam box.</p>
<p>I run a transportation business with an online booking system. This system generates a really important confirmation mail once the form is completed, one email to the customer and a cc to us. Both emails are landed into spam / junk box with not really certain reason.</p>
<p>It’s a very bad case but not the worst case, since I always check our spam box in regular basis and always reconfirm my customers if needed.</p>
<p>A better surprise was given by our previous hosting company. For several days, we didn’t receive any inquiry or order by form in our website. That’s rare. Sales amount was getting lower for few days. After I investigate and test our forms, a confirmation mail is sent successfully, but it’s never landed anywhere. Not in inbox, spam box, or any other folder in our email. I don’t know where the MX server sent that email in this world. I moved to another hosting company in that minute.</p>
<p>So now I do search for some clues from the expert about this issue.</p>
<p>It’s getting more difficult to get into inboxes, as the battle between spammers and email providers rages on. In recent, nearly one of four commercial emails doesn’t make it to the inbox and is either shunted to spam folders or blocked altogether. Six months earlier, this issue was one in five.</p>
<p>So these are some essentials to keep in mind:</p>
<ol>
<li>Polish your reputation
<p>
Spam filters are now looking more carefully at sender’s reputation. In case you use mail generator from your website (e.g. auto feedback to reply forms), just make sure your hosting provider is not in black list. I tried several hosting companies and had this issue several times. Bad IP’s reputation means bad case for the business.
</p>
</li>
<li>Hone your content
<p>
If you are trying to propagate a mass email and then got landed into spam box, while another email don’t, try to check your subject keyword.  A non-profit website in London got better email’s delivery rate after they changed their email subject from ‘raise money’ to ‘raise funds’.</p>
<p>Clearly identifying yourself in ‘from’ field, crafting an engaging subject line, and do whatever it takes to avoid people click the ‘report spam’ button on your email.
</p>
</li>
<li>Use clean list
<p>
The email lists contain hundreds or thousands email address are now can be purchased in internet. I don’t know is it legit or not. But there is chance a buyer get some traps in it, which are fake addresses used only to catch spam, and addresses of people who haven’t given permission to receive marketing messages.</p>
<p>If you want to use an email list, spend your time to filter that list and build the clean list of real customers and prospects who have agreed to receive email from you.
</p>
</li>
<li>Hire help
<p>
Regular commercial email is about the numbers of the recipient. As the business grows, the recipient number is increased dramatically, and this also means higher chance to be recognized as spam by recipient’s email provider.</p>
<p>A better way is by hiring a help from the expert to do this. Let the company like MailChimps or VerticalResponse doing this in more effective way.
</p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ziaulhaq.com/keep-your-email-away-from-spam-box/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penggunaan TLD, Subfolder, dan Subdomain</title>
		<link>http://ziaulhaq.com/penggunaan-tld-subfolder-dan-subdomain</link>
		<comments>http://ziaulhaq.com/penggunaan-tld-subfolder-dan-subdomain#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 13:17:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ziaulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[BizTalk]]></category>
		<category><![CDATA[Techno]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[regional]]></category>
		<category><![CDATA[seo]]></category>
		<category><![CDATA[subdomain]]></category>
		<category><![CDATA[subfolder]]></category>
		<category><![CDATA[tld]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ziaulhaq.com/?p=768</guid>
		<description><![CDATA[Pengorganisasian bahasa dan regional untuk website, mana yang lebih efektif: Menggunakan TLD, Subfolder, atau Subdomain?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar teminologi:</strong></p>
<p><strong>TLD:</strong> Top Level Domain. Yaitu akhiran dari sebuah domain, di antaranya: .com, .net, .org, .co.id, .web.id, .de, .qa, .au, dan lainnya. Misalnya: namadomain.com, namadomain.de, namadomain.au</p>
<p><strong>Subfolder: </strong>Atau disebut juga subdirectory. Ruangan khusus yang masih berada pada satu domain induk, misalnya: namadomain.com/de, namadomain.com/fr</p>
<p><strong>Subdomain: </strong>Ruangan khusus yang terpisah dari domain induk, misalnya: de.namadomain.com, fr.namadomain.com.</p>
<p><strong>Latar belakang:</strong> Saya lagi bingung untuk pengorganisasian pilihan bahasa pada salah satu website saya. Mana yang lebih efektif di antara TLD, Subfolder, dan Subdomain. Dan ini sedikit hasilnya setelah baca-baca di internet.</p>
<p>Tips: Jika ingin melakukan penelitian lebih dalam lagi, sebaiknya batasi hasil pencarian artikel maksimal dua tahun ke belakang. Cara kerja mesin pencari selalu berubah setiap saat. Artikel tahun 2009 ke bawah mungkin sudah tidak lagi relevan.</p>
<p>Oke, berikut ulasannya:</p>
<p><strong>Kapan harus menggunakan TLD?</strong></p>
<p>Sejauh ini dalam banyak kasus, penggunaan TLD lebih mencolok di mata search engine (terutama Google)  jika tujuannya adalah untuk pengorganisasian bahasa dan regional negara pengunjung.</p>
<p>Jadi, kalau kita ingin membuat pilihan bahasa Jerman dan ditujukan untuk pengunjung di negara Jerman, sebaiknya kita membuat website baru dengan domain namadomain.de, atau jika target pasarnya adalah negara Perancis, ambil namadomain.fr.</p>
<p>Penggunaan TLD regional juga biasanya memudahkan website tersebut untuk diindeks di negara terkait.</p>
<p>Contoh dari penggunaan TLD ini adalah website Amazon, salah satu toko online terbesar di planet ini. Amazon memisahkan pasar Amerika dan Inggris dengan menggunakan domain berbeda, yaitu Amazon.com (Amerika, dan global) dan Amazon.co.uk (Inggris). Atau situs Ebay, salah satu toko online terbesar di planet ini selain Amazon. Ada Ebay.com, dan ada juga Ebay.com.sg untuk pasar Singapura dan sekitarnya.</p>
<p><strong>Kapan harus menggunakan subfolder?</strong></p>
<p>Pada kenyataannya, pengorganisasian regional menggunakan TLD memerlukan banyak sumber daya. Setidaknya untuk tiap regional kita harus membeli satu domain baru, dan mungkin satu hosting baru dengan server yang lebih dekat dengan negara tujuan. Dan mungkin, penambahan orang juga.</p>
<p>Kalau brand kita tidak terlalu besar, atau belum ingin terlalu ribet, maka penggunaan subfolder bisa jadi pilihan. Penggunaan subfolder dalam satu domain induk juga bisa membantu meningkatkan peringkat domain induk di mata mesin pencari.</p>
<p>Jadi, pengorganisasian seperti ini boleh juga: namadomain.com/de, atau namadomain.com/fr, namadomain.com/au.</p>
<p>Sebenarnya kurang tepat juga dikatakan jika penggunaan subfolder ini hanya dilakukan website bisnis skala kecil menengah, karena ternyata Apple pun menggunakan subfolder: <a href="http://apple.com/uk">http://apple.com/uk</a> untuk website mereka di pasar Inggris.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan:</span> Jika anda ingin menggunakan metode subfolder untuk pengorganisasian regional, pastikan domain induk anda memiliki TLD global: .com, .net, .org, untuk hasil yang lebih optimal.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> Kapan harus menggunakan subdomain?</strong></p>
<p>Dulu Google menganggap subdomain sebagai domain tersendiri, dan memisahkan keyword subdomain dari domain induk. Namun sekarang, Google menganggap subdomain sebagai satu bagian dari domain induk.</p>
<p>Jadi untuk saat ini, sepertinya nyaris tidak ada lagi alasan bagus untuk menggunakan subdomain, karena toh hasil dari subdomain dan subfolder ternyata tidak jauh beda. Sedangkan subfolder lebih mudah pengaturannya.</p>
<p>Kalaupun masih ada alasan untuk menggunakan subdomain adalah, bahwa kita dapat memisahkan server hosting tiap subdomain. Kita dapat menggunakan server di Perancis untuk fr.namadomain.com dan server di Jerman untuk de.namadomain.com.</p>
<p>Tapi sebenarnya, tetap lebih baik menggunakan subfolder daripada subdomain.</p>
<p>Sebagai catatan tambahan, jika ingin membuat website yang berbeda untuk beberapa regional yang memiliki bahasa yang sama (misalkan: Inggris, Amerika, dan Australia sama-sama menggunakan bahasa Inggris), maka sebaiknya tiap halaman dibuat unik dan tidak asal kopi paste dari halaman regional lain. Hal ini berkaitan dengan masalah duplikasi content terhadap SEO.</p>
<p>Semoga bisnis anda (dan bisnis saya) cepat berkembang baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ziaulhaq.com/penggunaan-tld-subfolder-dan-subdomain/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komplain Garuda Indonesia</title>
		<link>http://ziaulhaq.com/komplain-garuda-indonesia</link>
		<comments>http://ziaulhaq.com/komplain-garuda-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 04:13:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ziaulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily]]></category>
		<category><![CDATA[citilink]]></category>
		<category><![CDATA[garuda indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komplain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ziaulhaq.com/?p=762</guid>
		<description><![CDATA[Komplain sistem reservasi Garuda Indonesia dan Citilink yang seringkali bikin capek.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Komplain, dan masukan buat sistem reservasi Garuda Indonesia, dan juga buat anaknya, si Citilink.</p>
<p>Pertama, buat Garuda Indonesia, maskapai yang katanya ingin go internasional:</p>
<p>Kejadian pertama adalah ketika saya booking langsung dari website Garuda (sebagai end user, bukan sebagai agent, karena kalo pake login agent hanya bisa pesen harga Flexible). Waktu itu saya membookingkan tiket untuk teman dengan rute Denpasar – Timika untuk tiga orang.</p>
<p>Halaman pertama untuk pengisian itinerary oke, halaman kedua untuk konfirmasi harga oke dan saya dapat harga Best Price, halaman ketiga untuk pengisian data pemesan oke, kemudian masuk halaman keempat, pembayaran online. Saya menggunakan internet banking Mandiri yang ternyata prosesnya jauh lebih ribet daripada KlikBCA. Setelah klik tombol Confirm dan nunggu gambar loading yang lama, ternyata…transaksi gagal dan saya harus mengulang dari awal!</p>
<p>Saya coba mengulang sekali lagi, dan ternyata…harga Best Price sudah habis! tinggal tersisa Flexible yang jauh lebih mahal. Luar biasa..</p>
<p>Saya coba lagi untuk keberangkatan tanggal besoknya. Sama persis, setelah klik tombol Confirm, ternyata transaksi gagal, saya harus mengulang dari awal, dan kemudian tiket Best Price-nya habis lagi.</p>
<p>Saya coba lagi untuk tanggal berikutnya. Kali ini pake KlikBCA. Ternyata..sama aja. Setelah klik tombol Confirm, transaksi gagal, saya harus mengulang dari awal, dan lagi2 tiket Best Price langsung habis.</p>
<p>Saya telpon ke CS Garuda Indonesia, kenapa pembayaran saya menggunakan internet banking Mandiri dan BCA selalu gagal, dan kenapa setelah dishoot tiketnya langsung habis. Dan jawaban CS nya kurang lebih…memang kalo pake iBanking Mandiri ato BCA sering bermasalah. Haha…</p>
<p>Akhirnya gak jadi beli. Si teman saya minta langsung datang ke kantor Garuda-nya aja. Capek saya. Pesen satu tiket aja makan waktu setengah hari..dan gak jadi-jadi.</p>
<p>Kejadian kedua di Garuda Indonesia adalah hari ini. Ada tamu yang datang ke kantor saya dan pesan tiket Garuda Indonesia. Kali ini saya pake login agent. Udah dishoot, tapi ternyata tiket belum datang2 juga. Telpon? Udah bolak-balik saya lakukan. Katanya seat sudah oke, tapi issue tiket diminta nunggu, nunggu, dan nunggu. Waktu sudah berlalu hampir sejam, bikin saya gak enak sama tamunya. Akhirnya tamunya saya minta jalan2 aja dulu.</p>
<p>Kedua buat anaknya Garuda Indonesia: Citilink.</p>
<p>Ini masalah sudah sejak dulu awal saya pake Citilink hingga booking terakhir sekitar pekan kemarin. Proses booking online lancar. Pembayaran oke. Tapi setelah nunggu lama, tiket belum diissue juga. Akhirnya saya telpon CS Citilink, baru setelah ditelepon tiketnya muncul di email saya. Dan munculnya selalu gak pernah sekali. Berkali-kali. Kadang sampe 21 email e-ticket masuk beruntun. Yang pekan kemarin bahkan sampe 60 email e-ticket masuk berurutan, untuk satu tiket yang sama!</p>
<p>Dan kejadiannya bukan hanya sekali, tapi hampir selalu seperti itu.</p>
<p>Sekarang kalo ada tamu yang pesen tiket ke kantor saya, pertama selalu saya arahkan ke maskapai lain. Jauh lebih mudah dan lebih cepat prosesnya, dan kadang lumayan gede komisinya. Di website maskapai lain juga Total Pricenya langsung kelihatan di halaman yang sama dengan halaman harga. Kalo Garuda dan Citilink, harus klik Next dulu baru kelihatan harga ‘belang’nya.</p>
<p>Apalagi Citilink gak ngasih komisi ke agent. Agent harus nambah harga sendiri, artinya lebih mahal dari harga di website.</p>
<p>Garuda Indonesia dan Citilink….apa kalian gak pernah evaluasi sistem reservasi?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ziaulhaq.com/komplain-garuda-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh SIRI Iphone Pada SEO</title>
		<link>http://ziaulhaq.com/pengaruh-siri-iphone-pada-seo</link>
		<comments>http://ziaulhaq.com/pengaruh-siri-iphone-pada-seo#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 10:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ziaulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[BizTalk]]></category>
		<category><![CDATA[Techno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ziaulhaq.com/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[Fitur SIRI pada Iphone 4S memudahkan orang mencari sesuatu di internet bahkan tanpa harus membuka search engine sama sekali. Lalu, bagaimana nasib SEO?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengantar:</p>
<p><strong>SIRI</strong>: adalah fitur asisten pribadi pada Iphone 4S yang dapat diperintah menggunakan suara. Mulai dari scheduling, pencarian data, tanya cuaca, reservasi, sampai sekedar diajak teman ngobrol.</p>
<p><strong>SEO</strong>: Search Engine Optimization. Upaya untuk menaikkan rating website supaya menduduki posisi yang bagus pada hasil pencarian search engine (contoh search engine: Google, Bing). Semakin bagus posisinya, maka semakin ‘kelihatan’ websitenya, dan semakin mudah ditemukan calon konsumen.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Fitur SIRI sangat membantu pengguna Iphone 4S, namun di satu sisi, dia jadi ancaman SEO website bagi perusahaan lokal.</p>
<p>Misalnya, ketika seseorang pulang larut malam dan ingin menggunakan taksi, dia cukup mengatakan pada SIRI, “Call me a cab”. SIRI kemudian memproses perintah itu dan memahami bahwa dia diminta untuk mencarikan taksi, kemudian SIRI mengakses internet, dan dengan algoritma tertentu memilih website perusahaan taksi terbaik di kawasan itu. Semuanya dilakukan, tanpa pemilik Iphone-nya harus melihat website dan hasil pencarian search engine.</p>
<p>Jika fenomena ini terjadi, maka pemilik perusahaan lokal harus bekerja lebih keras untuk meningkatkan peringkat websitenya, terutama untuk perangkat mobile. Hal ini mengingat pembeli Iphone 4S yang tidak sedikit jumlahnya.</p>
<p>Tidak menutup kemungkinan, setelah ini akan muncul inovasi voice-recognized lain saingan SIRI yang mungkin membuat pengguna lebih nyaman untuk ‘bersuara’ daripada harus searching manual.</p>
<p>Ada beberapa tips untuk meningkatkan peringkat website untuk SIRI atau perangkat berbasis perintah suara lainnya:</p>
<p><strong>Optimalkan website untuk perangkat mobile. </strong></p>
<p>Dan, beberapa cara berikut mungkin bisa digunakan:</p>
<ul>
<li>Buat template untuk mobile view. Contoh mudahnya adalah website Kaskus dan website AirAsia yang memiliki dua jenis tampilan: untuk desktop dan untuk perangkat mobile. Tampilan mobile membuat pandangan pengguna lebih nyaman, serta akses data lebih ringan sehingga keseluruhan halaman website lebih cepat dimuat.</li>
<li>Tingkatkan kekuatan data lokal untuk SEO. Sebutkan alamat fisik, nomor telepon, dan jam kerja di halaman pertama website. Bila perlu, sertakan peta.</li>
<li>Kurangi beban data-loading. Kurangi penggunaan Flash dan Javascript. Pertimbangkan bagaimana ‘seorang’ SIRI bisa lebih mudah untuk menangkap informasi tentang usaha anda, tanpa harus memproses sekian banyak data yang tidak perlu.</li>
</ul>
<p><strong>Jadilah lebih “Eksis” di dunia digital. </strong></p>
<p>Saat ini, tidak lagi cukup hanya dengan berkutat dengan bagus-bagusan website, Facebook, dan Twitter. Daripada menghabiskan banyak waktu untuk menghias habis-habisan ketiga benda itu, lebih baik alokasikan waktu anda untuk memperkaya ‘lokasi eksis’.</p>
<p>Jika target anda adalah pasar internasional, setidaknya anda disarankan untuk eksis di tempat berikut:</p>
<ul>
<li>Facebook</li>
<li>Twitter</li>
<li>Google Places</li>
<li>Foursquare</li>
<li>Yahoo Local</li>
<li>Bing Local</li>
<li>Grubhub</li>
<li>Open Table</li>
<li>Yellow Pages</li>
<li>Saving.Com</li>
<li>dll</li>
</ul>
<p>Jika target anda adalah pasar Indonesia, jangan lupakan banyak ‘pasar’ di Indonesia:</p>
<ul>
<li>Kaskus</li>
<li>Detik Forum</li>
<li>Tokobagus</li>
<li>Indonetwork</li>
<li>dll</li>
</ul>
<p>Untuk menentukan di mana sebaiknya anda ‘mangkal’, lakukan riset kecil untuk mengetahui website komunitas apa yang paling populer di lokasi target market anda. Misalnya target anda adalah pasar Jerman, maka komunitas yang populer adalah website GMX.de, atau jika timur tengah adalah Maktoob.com.</p>
<p><strong>Tingkatkan ‘jebakan’ metadata </strong></p>
<p>Jika anda ahli dalam dunia SEO, atau punya staff IT, anda bisa lebih memperkuat efektivitas skema meta tag pada website anda untuk memancing mesin pencari. Tekankan juga tag yang berkaitan dengan data lokal usaha anda: telepon, email, alamat kantor, dan jam operasional. Hal ini akan mempermudah robot seperti SIRI untuk menemukan usaha anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ziaulhaq.com/pengaruh-siri-iphone-pada-seo/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Website Shell Livewire Dihack</title>
		<link>http://ziaulhaq.com/website-shell-livewire-dihack</link>
		<comments>http://ziaulhaq.com/website-shell-livewire-dihack#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 13:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ziaulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[BizTalk]]></category>
		<category><![CDATA[Daily]]></category>
		<category><![CDATA[hack]]></category>
		<category><![CDATA[livewire]]></category>
		<category><![CDATA[shell]]></category>
		<category><![CDATA[website]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ziaulhaq.com/?p=749</guid>
		<description><![CDATA[LiveWIRE adalah program akselerasi entrepreneur muda Indonesia dari CSR-nya Royal Dutch Shell. Saat ini websitenya dihack.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selain Wirausaha Muda Mandiri, program CSR corporate untuk akselerasi wirausaha Indonesia lainnya adalah Live Wire yang diadakan oleh Shell (Royal Dutch Shell), perusahaan minyak asal Belanda yang kini sedang bercokol menikmati hasil bumi Indonesia.</p>
<p>Seperti WMM, Shell Live Wire juga cukup bagus karena bukan hanya fokus pada pinjaman duit untuk usaha, tapi juga fokus ke pendampingan manajemen usaha.</p>
<p>Sayangnya, webnya ndak keurus, karena saat ini ada jejak hacker di situ.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ziaulhaq.com/website-shell-livewire-dihack/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WMM &#8211; Survey Tahap II</title>
		<link>http://ziaulhaq.com/wmm-survey-tahap-ii</link>
		<comments>http://ziaulhaq.com/wmm-survey-tahap-ii#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 13:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ziaulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[BizTalk]]></category>
		<category><![CDATA[survey]]></category>
		<category><![CDATA[wirausaha muda mandiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ziaulhaq.com/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[Survey tahap kedua Wirausaha Muda Mandiri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore ini ada survey tahap ke-2 untuk kontes Wirausaha Muda Mandiri. Surveyor yang datang berwujud sebentuk mahasiswa dan sebentuk mahasiswi dari kampus setempat. Kata mereka ada semacam program kemitraan ato pembinaan antara bank Mandiri dan kampus. Malah, nantinya kalo bisa lolos sampe ke survey tahap ke-3 surveyor yang datang adalah dosennya langsung.</p>
<p>Banyak bener tahap surveynya.</p>
<p>Bentuk survey kali ini hanya berupa wawancara thok, alias murni ngobrol-ngobrol. Mereka sudah punya checklist obrolan di tangan. Gak mau ditawari lihat-lihat kondisi usaha atau lihat-lihat dalam ruangan. Ga tau apakah memang prosedurnya seperti itu ato mereka aja yang males keliling karena udah capek, karena tempat saya adalah yang terakhir disurvey hari ini.</p>
<p>Topik obrolannya:</p>
<ol>
<li>Mana aja lokasi usahanya?</li>
<li>Bagaimana angka pertumbuhanya?</li>
<li>Akuntabel tidak? Pencatatannya bagaimana?</li>
<li>Berbadan hukum gak? Punya NPWP perusahaan gak? Bisa lihat      dokumen-dokumennya?</li>
<li>Apakah melibatkan masyarakat sekitar?</li>
<li>Bagaimana jangkauan pemasarannya? Regional, nasional, atau internasional?</li>
<li>….(lupa)</li>
</ol>
<p>Di akhir sesi mereka minta foto usaha. Awalnya minta berupa foto cetak, tapi karena gak ada stok jadinya saya kasih file.</p>
<p>OOT, saya lebih suka profil surveyor pertama yang kalem dan santun. Surveyor kedua sopan2 aja sih, tapi motornya gak ada plat nomornya, dan mereka berdua gak pake helm.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ziaulhaq.com/wmm-survey-tahap-ii/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alternatif Selain Paypal</title>
		<link>http://ziaulhaq.com/alternatif-selain-paypal</link>
		<comments>http://ziaulhaq.com/alternatif-selain-paypal#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 14:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ziaulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[BizTalk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ziaulhaq.com/?p=732</guid>
		<description><![CDATA[Nyari alternatif online payment processor selain Paypal.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat yang udah ngerti bekgronnya dan bener2 nyari alternatif Online Payment Processor selain Paypal, rangkuman dari tulisan ini adalah: Saya belum nemu alternatif selain Paypal yang lebih baik. Kalo anda tahu, saya harap anda mau ngasih tahu saya.</p>
<p>Buat yang penasaran, silakan lanjut bacanya.</p>
<p><strong>Bekgron</strong></p>
<p>Paypal memang sudah sangat berjasa untuk usaha kami selama ini. Kemudahan pembayaran, banyaknya fitur untuk merchant, dan kemudahan withdraw ke rekening bank lokal, serta banyaknya pengguna.</p>
<p>Namun kadang-kadang masih saja &#8216;kurang terima&#8217; dengan skema biayanya.</p>
<p>Berikut skema biaya Paypal yang harus kita perhitungkan kalau kita menjadi merchant di Indonesia, dengan customer luar negeri (kalo customernya dalam negeri pake internet banking ato ATM aja).</p>
<ol>
<li>Receiving Fee. Biaya yang dikenakan Paypal untuk merchant untuk setiap uang yang masuk. Untuk Paypal-er Indonesia besarnya 3.4% + USD 0.3. Eits, tunggu dulu. Jumlah 3.4% ini jika customer kita adalah customer domestik dari dalam negeri.</li>
<li>Cross Border Fee. Tambahan biaya jika kartu kredit customer kita diterbitkan di luar negeri. Besarnya 0.5%.</li>
</ol>
<p>Jadi normalnya, kalo customer kita rata2 dari luar negeri, besar biayanya sejumlah 3.9% + USD 0.3. Banyak ya?</p>
<p>Itu aja?</p>
<p>Masih ada &#8216;biaya tidak tampak&#8217;. Biaya ini muncul dari selisih kurs mata uang, antara kurs standard (kurs Bank Indonesia) dan kurs Paypal. Paypal mengambil kurs kurang lebih 0.3 sen amrik atau mungkin sekitar 200-300 rupiah di bawah kurs standard, untuk mata uang apa saja. Jadi kalo kurs BI nilainya 9000 rupiah per satu dollar amrik, maka kurs tukar Paypal adalah sekitar 8800 rupiah.</p>
<p>Biaya tidak tampak dari selisih kurs ini mengakibatkan dua hal: Pertama, jika kita withdraw saldo Paypal kita ke rekening bank lokal, maka uang yang kita terima lebih sedikit. Kedua, jika kita menjual barang/jasa dengan acuan rupiah, maka ketika kita tagihkan ke customer dalam bentuk USD menggunakan rate Paypal, harganya jadi lebih tinggi. Kalau kita ingin mendapatkan penghasilan bersih sesuai keinginan, maka kita harus mengenakan surcharge fee kepada customer sekitar 4.3% dari harga barang.</p>
<p><strong>Alternatif Selain Paypal</strong></p>
<p>Barusan saya membandingkan dengan beberapa jasa Payment Processor berikut:</p>
<ol>
<li>Google Checkout, ini punyanya Google.</li>
<li>Moneybookers.</li>
<li>AlertPay.</li>
<li>Paymate.</li>
<li>AmazonPayment, ini punyanya Amazon.</li>
</ol>
<p>Baru itu sih.Yang lain-lain saya jarang dengar namanya.</p>
<p>Saya hanya membandingkan dari sisi skema biayanya. Kalau untuk rate kursnya, saya belum membandingkannya karena saya harus punya account-nya dulu.</p>
<p>Kesimpulannya: Biaya mereka kurang lebih sama, atau ada juga yang lebih tinggi dari Paypal. Tapi menariknya, ada juga yang biayanya ditagihkan kepada customer (CMIIW).</p>
<p>Dengan struktur biaya yang hampir sama, sepertinya saya masih harus setia dengan si Paypal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ziaulhaq.com/alternatif-selain-paypal/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Upgrade ke Paypal Business Account</title>
		<link>http://ziaulhaq.com/upgrade-ke-paypal-business-account</link>
		<comments>http://ziaulhaq.com/upgrade-ke-paypal-business-account#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 13:31:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ziaulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[BizTalk]]></category>
		<category><![CDATA[business account]]></category>
		<category><![CDATA[paypal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ziaulhaq.com/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Cerita tentang proses upgrade Paypal dari Premier Account ke Business Account.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadinya saya ingin membuat sebuah akun Paypal terpisah, antara akun saya sendiri dan akun perusahaan. Dan rencananya juga, akun perusahaan saya sambungkan langsung dengan rekening perusahaan (rekening dengan nama perusahaan) supaya semua dana masuk bisa langsung dicairkan ke rekening bank perusahaan dan tidak tercampur ke rekening pribadi. Karenanya saya membuat akun baru khusus untuk perusahaan.</p>
<p>Namun ternyata terkendala pada proses verifikasi.</p>
<p>Saya membuka account baru tersebut menggunakan nama personal, yaitu nama orang yang tercantum dalam akta pendirian perusahaan. Kemudian karena ini Business Account, maka saya masukkan nama perusahaan saya pada kolom isian Company Name. Pun, karena ini Business Account, maka rekening bank yang saya link-kan adalah rekening bank perusahaan, di mana di buku tabungannya yang tertera adalah nama perusahaan, bukan nama perseorangan.</p>
<p>Kemudian pada proses verifikasi, saya melampirkan bukti scan KTP pendiri, scan akta pendirian perusahaan yang mengandung nama pendiri dan nama perusahaan, dan scan buku tabungan perusahaan. Ternyata pada tahap ini, Paypal ngotot meminta rekening bank yang sesuai dengan nama personalnya (nama yang tertera pada KTP), meskipun saya sudah coba jelaskan beberapa kali bahwa ini adalah account perusahaan, dan uang yang masuk diharapkan dapat langsung masuk ke rekening atas nama perusahaan, dan bukan ke rekening pribadi.</p>
<p>Proses dialog ini berlangsung berhari-hari, namun Paypal tetap bersikukuh.</p>
<p>Saya pikir, pada akhirnya tidak banyak bedanya antara akun lama dan akun baru. Akhirnya akun baru itu saya tutup. Saya pakai akun lama untuk akun perusahaan. Saya upgrade akun dari Premier ke Business, menambahkan nama perusahaan, dan mengganti email primer dari email saya sendiri menjadi email yang lebih formal yang mengandung nama perusahaan. Saya juga menambahkan logo perusahaan pada invoice Paypal.</p>
<p>Dan, hari itu juga (atau jam itu juga) semua selesai <img src='http://ziaulhaq.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ziaulhaq.com/upgrade-ke-paypal-business-account/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Glimpse of Senggigi</title>
		<link>http://ziaulhaq.com/a-glimpse-of-senggigi</link>
		<comments>http://ziaulhaq.com/a-glimpse-of-senggigi#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Nov 2011 15:22:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ziaulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[BizTalk]]></category>
		<category><![CDATA[Daily]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ziaulhaq.com/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Mengenal Senggigi, Lombok Barat..]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judulnya saya kasih Glimpse, karena memang baru beberapa hari resmi menetap di Senggigi. Mungkin nanti kalo sudah cukup mengenal daerahnya saya bikin tulisan lagi.</p>
<p>Tidak sedikit orang yang tanya, apakah saya betah di sini? Mungkin karena lihat bekgron saya yang agak lama di kota besar (Surabaya dan Bekasi) trus tiba-tiba pindah ke desa jauh dari Jawa. Yup, Senggigi itu nama desa, masih di bawah kecamatan, dan suasananya memang suasana desa. Bedanya dengan desa lain, di sini banyak orang kaukasia hilir mudik.  Kalo di desa lain banyak Bucheri, bule ngechet sendiri (rambutnya dicat merah). Hehe. Selama masa esema tiga tahun saya tinggal di daerah yang lebih desa dari ini. Insya Allah tinggal di mana saja ndak masalah, asal bukan di neraka +_+</p>
<p><strong> Menuju Senggigi</strong></p>
<p><strong>Perjalanan via darat dan laut</strong>: Dari pulau Jawa menuju Senggigi bisa naik bis langsung yang turun di Mataram, atau kalo mau estafet bisa aja. Naik kereta api turun di pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, trus beli tiket bis arah Denpasar. Nyebrang naik ferry dulu pastinya. Setelah sandar di pelabuhan Gilimanuk baru naik bis beneran sampe ke terminal Ubung. Dari terminal Ubung naik sesuatu (karena saya belum pernah) menuju pelabuhan Padangbai. Dari pelabuhan Padangbai bisa naik ferry biasa (sekitar 5 jam atau lebih kalo pake antri sandar) ato naik fast boat sekitar 1.5 jam, kapal catamaran ukuran kecil bermesin cepat. Kalo naik ferry turun di pelabuhan Lembar trus naik sesuatu (saya juga ndak tau) ke arah Senggigi. Pelabuhan Lembar lumayan jauh dari Senggigi. Kalo mau enak sih, tinggal kontak rental mobil saya (lomboktransport.com) di 08175793495 dan anda akan kami jemput dengan mobil bagus ber-AC (promosi ON). Kalo naik fast boat turun di pelabuhan Teluk Kodek trus bisa naik taxi ato kontak rental saya yah.</p>
<p><strong>Perjalanan via udara: </strong>Turun di Bandara Internasional Lombok (BIL). Setelah itu paling murah ke Senggigi naik Damri bandara. Cuma 25 ribu per orang. Atau taxi. Ndak tau berapa. Atau…kontak rental mobil saya (lomboktransport.com) di 08175793495. Anda akan dijemput mobil bagus ber-AC <img src='http://ziaulhaq.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Konichiwa. Anda sampai di Senggigi.</p>
<p><strong>Penginapan</strong></p>
<p>Yang bagus dan mahal ada. Yang murah juga ada. Yang bagus biasanya terletak di pinggir pantai: hotel Senggigi Beach, Graha Senggigi, Qunci Villa, The Santosa.</p>
<p>Yang murah di bungallow dan homestay yang bertebaran. Tarif bisa di bawah 100 ribu per malam. Sudah ada kamar mandi dalam, ranjang twin bed, cuma biasanya masuk ke gang.</p>
<p>Yang murah dan enak…doakan saya bisa beli rumah besar dan bagus di sini yah. Siapa tau nanti sampean saya izinkan nginap -_-</p>
<p>Yang gratis? Hm. Sepertinya ada tuh. Ada hotel model villa yang (seharusnya) bagus. Namanya hotel Sahid Senggigi. hotelnya sudah dibangun tapi trus ditinggal karena katanya ada sengketa kepemilikan. Kamar-kamarnya kosong. Kolam renangnya bagus, tapi isinya genangan air kotor. Di pinggir kolam renang ada minibar. Listrik udah gak ada. Kalo mau nginap aja di situ, sekalian uji nyali. Sepertinya ndak ada yang ngelarang.</p>
<p><strong>Tempat Makan</strong></p>
<p>Tempat makan ya di meja. Mejanya bisa ada di warung-warung kecil, atau di restoran dan kafe. Restoran dan kafe yang paling rame ada Happy Café dan Papaya Café. Happy Café bikin malam di area Senggigi jadi agak hidup karena suara bandnya cukup kenceng.</p>
<p><strong>Aktivitas</strong></p>
<p>Surfing. Tapi saya belum pernah tuh. Mancing. Belum pernah juga. Diving atau snorkeling. Sebenarnya..belum pernah juga <img src='http://ziaulhaq.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hm. Sepertinya kok sia-sia saya tinggal lama di Senggigi.</p>
<p>Yah, itu tadi daftar kegiatan yang bisa dilakukan di Senggigi. Kalo saya sih cukup lari pagi di pinggir pantai Senggigi. Sunrise bagus sebelum jam 6 WITA. Kalo di atas jam 6.15 an gitu matahari sudah agak tinggi dan sudah cukup bikin keringatan karena panas. Biasanya saya lari pagi seminggu 2-3 kali. Tergantung kemarin malamnya tidur jam berapa. Tapi paling sayang melewatkan lari pagi hari Sabtu atau Minggu karena pantainya rame. Kalo hari lain, kadang cuma saya yang lari pagi di pantai.</p>
<p>Sorenya bisa lihat sunset. Sekitar jam 5 sore. Kadang saya pake sepeda ke pantai.</p>
<p>Hehe..kesannya kok penikmat pantai banget. Padahal sebenarnya nggak juga.</p>
<p>Kalo berangkat ke tempat kerja, pemandangan bukitnya bagus banget. Like it so much in everyday and all day.</p>
<p><strong>Biaya Hidup</strong></p>
<p>Harga sepiring nasi ndak seragam meski letaknya berdekatan. Kadang dengan menu yang sama yang satu harganya 8000, kadang 6000, dan barusan saya makan nasi bungkus lauk ayam cuma 3000. Agak ngeri sih, tapi percaya aja karena sudah jadi langganan teman.</p>
<p>Internet di warnet? Wuah, ini tarif warnet termahal sepanjang hidup saya. Tarif internet di warnet kawasan Senggigi 18 ribu perjam buat bule. Kalo buat lokal separuhnya.</p>
<p>Alhamdulillah saya ngenet gratis, karena salah satu usaha kami kan warnet. LR-Net. Hehe..</p>
<p>Barusan ada bule ngeyel minta tarif separuh harga. Dia bandingin sama tarif di Jakarta. Ya iyalah. Di Jakarta warnet cuma 3000 sejam. Jangankan di Jakarta, di Mataram 20 menit dari sini aja internet sudah 3500 perjam.</p>
<p>Awalnya saya ndak tega lihat tarif internet segitu. Tapi kata teman2 harganya ndak bisa diturunkan karena sudah jadi kesepakatan bersama di kawasan. Kalo ada yang berani menurunkan sama aja cari perkara.</p>
<p>Padahal, internet adalah basic need buat para traveller. Seharusnya dengan tarif internet yang lebih terjangkau, para traveller akan lebih mudah berkomunikasi dengan keluarga dan teman mereka di tanah air, lebih lama ngobrol via Skype atau chat via Windows Live (dua ini paling populer di kalangan turis bule), atau menulis di blog, upload foto, dan memberitahu betapa bagusnya Senggigi. Mengajak teman lain untuk datang ke Senggigi, dan ujung-ujungnya bagus buat pemilik usaha lokal juga.</p>
<p>Semoga nanti bisa turun harganya.</p>
<p><strong>Belanja Harian</strong></p>
<p>Ada dua supermarket utama: Sengggigi Jaya sama Senggigi Abadi. Senggigi Jaya lebih besar, ada mbak2 cantik alami yang jaga, dan…harga barang2nya relatif lebih mahal dari Senggigi Abadi. Plus parkir liar di Senggigi Jaya. Kalo di Senggigi Abadi parkir ndak bayar, ada satpam BNI 24 jam, barang lebih murah, tapi tempat agak kecilan, plus kadang ada mbak2 escort (yang entah cantik ato ndak tapi pakeannya kurang bahan) yang belanja di situ.</p>
<p><strong>Riwa-Riwi</strong></p>
<p>Kalo mau riwa-riwi bisa sewa mobil atau motor. Alhamdulillah tarif sewa kendaraan Self Drive di sini sama dengan di Jawa. Di rental saya, untuk self drive Karimun Estilo bisa nego di bawah 200 ribu per 24 jam. Kalo motor rata-rata 50 ribu perjam. Hampir seluruh persewaan menggunakan motor matic. Hampir seluruhnya pake Honda: Vario, Beat, dan Spacy. Karena harga jual kembalinya relatif stabil.</p>
<p>Tapi hampir seluruh persewaan ndak mau menyewakan self drive untuk turis domestik. Turis domestik diwajibkan pake driver. Malah turis bule yang bebas bawa sendiri.</p>
<p><strong>Places To Visit</strong></p>
<p>Senggigi beach pastinya. Ada juga Malimbu beach yang bagus buat liat sunset. Ada Pura Batu Bolong, saya ndak tau orang liat apa di sana karena saya juga blum pernah masuk, cuma lokasinya memang eksotis di ujung tikungan jalan dan di atas pantai.</p>
<p>Itu di Senggigi. Kalo agak jauh bisa ke Gili Trawangan. Mumpung lagi ngetren di kalangan artis.</p>
<p>Senggigi lebih aman untuk pandangan dan hati daripada Bali. Karena tempatnya lebih tenang, banyakan bule2 tua berkeliaran daripada bule2 muda. Bule2 mudanya pun ndak seseronok di Bali. Isu drug dan prostitusi nyaris ndak ada. Adzan masih terdengar di mana-mana. Shalat jamaah lebih mudah dijaga. Semoga berkah.</p>
<p>That’s all.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ziaulhaq.com/a-glimpse-of-senggigi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akses Website Dengan OpenDNS</title>
		<link>http://ziaulhaq.com/akses-website-dengan-opendns</link>
		<comments>http://ziaulhaq.com/akses-website-dengan-opendns#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 05:36:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ziaulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Techno]]></category>
		<category><![CDATA[akses website]]></category>
		<category><![CDATA[opendns]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ziaulhaq.com/?p=681</guid>
		<description><![CDATA[Di ruang kerja, laptop saya jadi satu-satunya komputer yang tidak bisa mengakses Facebook.
Ternyata setting DNS penyebabnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di tempat gawe yang baru, laptop saya jadi satu-satunya komputer yang gak bisa buka Facebook. Padahal ada 6 PC dan 1 laptop selain laptop saya, dan semuanya koneksinya lancar-lancar saja.</p>
<p>Sudah saya coba utak-atik browsernya, ternyata gak ngaruh. Tes ping website facebook, ternyata sama sekali gak bisa konek. Website lain selain facebook lancar-lancar aja.</p>
<p>Koneksi pake Speedy. Padahal selama ini kalo pake modem pribadi lancar-lancar aja.</p>
<p>Akhirnya setelah jelajah sana-sini, ketemu solusinya. Ternyata di luar sana banyak yang punya masalah sama. Permasalahannya ada pada setting DNS. Meskipun background saya (dulu) orang Network, tapi jangan tanya saya ada apa dengan setting DNS nya. Yang jelas setting DNS nya bikin koneksi ke facebook gak lancar-lancar aja.</p>
<p>Solusinya, pake setting DNS pake OpenDNS (<a href="http://opendns.com">http://openDNS.com</a>). Sebelumnya semua Network Setting pake auto. Alhamdulillah, setelah setting DNS nya diganti, sekarang buka Facebook jadi lancar-lancar aja.</p>
<p>Harusnya artikel ini judulnya &#8216;Lancar-Lancar Aja&#8217;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ziaulhaq.com/akses-website-dengan-opendns/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

